| Monday, 10 January 2011 | |
Pusat Studi Adapatasi dan Mitigasi Bencana - Universitas Gunadarma bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi – Kementerian ESDM, METI, PLN, Gobel International, CESI , Pem Kab Kepulauan Seribu dan PemKot Depok akan menyelenggarakan Seminar-Lokarya Nasional Clean Energy Development - REFF BURN (Model Pengembangan Permukiman Pesisir Berbasis Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi). Seminar akan diselenggarakan pada: Hari/tanggal: Rabu, 12 Januari 2011 Waktu: jam 08.30 – 13.15 BBWI. Tempat : Ruang Audotorium Gedung 4 lantai 6 Kampus D Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya No 100 Depok Acara terbagi menjadi dua sesi: Sesi I: Seminar Nasional dan Diskusi Pembicara 1: Dr. Luluk Sumiarso (Dirjen Energi Baru dan Terbarukan – Kementerian ESDM ) Materi : Clean Energy Development : Reducing Emmisions from Fossil Fuel Burning (REFF-Burn) Pembicara 2 : Dr. Sudirman Saad (Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil– Kementrian Kelautan dan Perikanan) Materi : Kebijakan Pengembangan Kawasan Pesisir Berbasis Energi Bersih Pembicara 3 : Dr. Ir. Hartono Siswono, MT (Kepala Pusat Studi Tenaga Surya-U Gunadarma) Materi: Aplikasi Teknologi dan Energi Bersih sebagai Alternatif Pasokan Listrik untuk Pengembangan Pesisir Moderator : Dr. Ir. Ruswandi Tahrir, MSP Sesi II: Diskusi Aplikasi Pembicara: 1. Zulkieflimansyah, PhD (Komisi 7 DPR RI - UI) 2. Prof. Ir. Widjajono Partowidagdo (Dewan Energi Nasional) 3. Achmad Ludfi (Bupati Kep Seribu) 4. Dr. Nurmahmudi (Walikota Depok) 5. Dr. Dahlan Ihsan ( Dirut PLN) 6. Dr. Hilmi Panigoro ( Ketua METI) 7. Dr. Rahmat Gobel (Dirut Gobel International)) 8. Prof. Dr. Ir. Reynaldo Zoro (ITB) Moderator : Dr. Ir. Ruswandi Tahrir, MSP |
Kamis, 18 Agustus 2011
Seminar-Lokarya Nasional Clean Energy Development - REFF BURN
BBM Habis Tahun 2014
Sumber: KompasMasyarakat, khususnya generasi muda, diimbau untuk mengurangi perilaku konsumtif menggunakan bahan bakar minyak dari jenis fosil. Sebaliknya, mulai memikirkan dan menyosialisasikan penggunaan energi alternatif. Sebab, setidaknya pada 2014 mendatang, BBM jenis fosil ini akan mulai habis.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia (Kenmi) 2009 yang diadakan di Kampus Institut teknologi Bandung, Minggu (15/3). Seminar yang diikuti perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di 14 provinsi ini dihadiri Sekretaris Jendral Dewan Energi Nasional Novian M. Thaib, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Lambok Hutasoit, serta pengamat energi Prof. Widjajono Partowidagdo dan Sugiharto.
Menurut Lambok yang juga Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, jika tidak peningkatan cadangan minyak terbukti (proven) , Indonesia hanya akan bisa mandiri energi (BBM) paling lama di 2014 mendatang. Ini mengingat tingginya kebutuhan BBM di tanah air. “Bukannya ingin menakut-nakuti, tetapi untuk lebih menggugah kita di sini agar mulai bisa memikirkan penggunaan sumber energi alternatif baru,” ucapnya.
Ketua Steering Commitee The Indonesia Economic Intellegence yang juga adalah mantan Menteri BUMN, Sugiharto, mengungkapkan, pemborosan energi nasional dipicu pula gaya hidup yang konsumtif dari masyarakat. “Anak-anak muda, ingin makan jagung bakar saja sampai harus ke Puncak, buang-buang bensin 20 liter. Ini perilaku konsumtif. Harus berubah paradigmanya bahwa energi (BBM) itu mahal dan langka,” tutur mantan petinggi perusahaan perminyakan nasional Medco Energi ini.
Novianto membenarkan, masyarakat di Indonesia termasuk yang terboros dalam hal pemanfaatan BBM. Perbandingan elastisitasnya 1,84. Jauh lebih boros dari Jepang dan Amerika Serikat, ucapnya. Jepang misalnya, koefesien elastisitasnya hanya 0,10. Untuk meningkatkan per 1 USD GDP (produk domestik bruto), masyarakat kita butuh 1,84 kali lipat energi BBM, ucapnya.
Di sisi lain, pengembangan energi alternatif saat ini belum memadai. Murahnya harga BBM mengakibatkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap energi fosil. Menurut Widjajono, pengajar dari Perminyakan ITB yang juga anggota Dewan Energi Nasional, dilihat secara ekonomis dan kajian tata niaga, energi alternatif tidak mungkin bisa berkembang saat ini. Selama BBM lebih murah, itu akan selalu demikian. Harusnya energi alternatif ini yang mendapat subsidi. Karena langka, harusnya dibalik, BBM yang jadi alternatif energi, tuturnya.
Dalam kerangka mendorong kemandirian energi inilah perwakilan mahasiswa dari 14 provinsi ini dikumpulkan. Ada 21 paper kajian pemanfaatan energi (terbarukan) yang disesuaikan kebijakan daerah dan feasibilitasnya, ucap Ketua Panitia Kenmi 2009, Arif Rohman. Kegiatan ini akan berlangsung hingga Selasa (17/3) mendatang. Dari acara ini diharapkan muncul rekomendasi mahasiswa tentang pola kemandirian energi.
Menurut Presiden Keluarga Mahasiswa ITB Shana F. Sukarsono, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian energi, setidaknya di tingkat lokal (daerah) dari masing-masing peserta. Yaitu, kemandirian energi yang hidup dalam kultur kita, ucapnya. Di beberapa daerah, kemandirian energi ini diwujudkan antara lain lewat listrik bertenaga kincir air (mikrohidro), pemanfaatan minyak jarak dan gasifikasi sekam
Memacu Lifting Minyak RI
Tuesday, May 24th, 2011
Oleh : Widjajono Partowidagdo
Penemuan cadangan minyak sangat minim sejak 2003. Akibatnya, produksi minyak kita turun di bawah 1 juta barel per hari (bph). Menurunnya’ produksi minyak nasional bukan karena minyak kita sudah habis atau prospek eksplorasi di Indonesia rendah, melainkan Iebih karena investasi untuk eksplorasi yang sangat minim.
menemukan prospek Kikeh di laut dalam, dengan cadangan sekitar satu (1) miliar barel. Kalau Malaysia saja yang wilayah lautnya tak seberapa berhasil menemukan cadangan minyak yang besar, Indonesia mestinya jauh lebih berlimpah dari negeri jiran itu. Selat Makassar, konon, kini menjadi perhatian perusahaan-perusahaan rakasasa minyak dunia.
Lalu, mengapa kita yang punya kekayaan alam (laut dan darat) berlimpah justru terseok-seok dalam hal produksi minyak? Berdasarkan data Top 135 Projects yang diterbitkan oleh GSRI (2007), Indonesia adalah negara berisiko tinggi (high risk) dalam hal investasi bidang migas. Bandingkan dengan Australia yang masuk katagori low risk dan Malaysia medium risk.
Tingginya risiko di Indonesia telah mengakibatkan perusahaan-perusahaan migas hanya berkonsentrasi pada mempertahankan produksi lapangan-lapangan yang sudah ada. Itulah yang mengakibatkan produksi minyak kita turun. Karena itu, perlu usaha untuk memperbaiki iklim investasi guna meningkatkan cadangan
dan produksi migas di Indonesia.
dan produksi migas di Indonesia.
Perbaikan Menyeluruh Mengundang investor seperti mengundang pelanggan untuk rumah makan. Seseorang akan menjadi pelanggan apabila dia tahu dan mengenal rumah makan tersebut. Karen itu,` promosi sangat penting. Promosi saga juga tidak cukup karena pelanggan memiliki selera tertentu atas makanan yang disajikan. Makanan yang enak (sesuai selera) akan membuat pelanggan datang lagi. Makanya rumah makan hanya akan laku apabila makanannya enak, harganya bersaing, pelayanan, dan lingkungannya baik.
Dalam hal cadangan migas yang kita miliki, Indonesia perlu meningkatkan kualitas informasi tentang wilayah yang memiliki cadangan atau kekayaan migas yang ditawarkan. Data seismik serta studi geofisika dan geologi harus tersedia lebih baik, lengkap, terperinci, dan jelas.
Soal harga yang bersaing, hal itu bisa diwujudkan dengan sistem fiskal yang menarik. Perlu sistem fiskal yang fleksibel dan lebih menjamin keuntungan atau mengurangi risiko kontraktor dengan memberikan bagian pemerintah yang kecil untuk revenue/cost (R/C) yang kecil dan yang besar untuk R/C yang besar yang berlaku untuk minyak, gas dan coal bed methane (CBM). Hal ini perlu agar kontraktor lebih bersemangat untuk mengembangkan prospek perminyakan dengan biaya tinggi seperti daerah terpencil dan Taut dalam.
Pada masa lalu sistem fiskal yang menjadi bagian pemerintah tetap. Berapa pun keuntungan yang diperoleh, hal itu tidak menjadi masalah karena kegiatan-kegiatan dilakukan di daratan dantaut dangkal, primaryrecovery, dan lapangan yang relatif besar.
Kontrak bagi hasil dan kontrak lainnya harus dijiwai semangat kemitraan (partnership), dengan semangat pelayanan yang baik. Dalam hal kontrak bagi hasil, bahkan diperlukan perlakuan khusus bagi investor karena pemerintah mendapat 85% untuk minyak dan 70% untuk gas dari pendapatan bersih. Sebaiknya, tidak dikenakan pungutan-pungutan tambahan.
Cost recovery adalah untuk meningkatkan produksi dan dibayar oleh pendapatan dari produksi yang juga berlaku di pajak biasa. Membatasi costrecoverysama saja dengan membatasi•produksi karena eksplorasi belum tentu menemukan minyak. Mengenakan pajak pada waktu eksplorasi juga akan menurunkan peringkat investasi Indonesia.
Permasalahan-permasalahan di wilayah operasional migas juga harus diselesaikan segera, jangan berteletele, seperti pembebasan lahan. Permasalahan lainnya yang perlu mendspat perhatian dan dituntaskan segera adalah soal tumpang tindihnya aturan main antara pertambangan dan kehutanan. Masalah perizinan (penyederhanaan birokrasi), keharmonisan antara pusat-daerah dan antardaerah juga harus dituntaskan.
Hal yang juga sering menjadi bate sandungan dalam meningkatkan produksi migas adalah tak adanya koordinasi antarinstitusi terkait Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bappenas, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri, serta antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. lni harus menjadi perhatianjika kita ingin mendongkrak lifting minyak kits.
Perusahaan Nasional Peningkatan kemampuan nasional bidang migas tentu saja akan terjadi apabila ada keperpihakan pemerintah terhadap perusahaan dam negeri. Kontrak-kontrak migas yang sudah habis, misalnya, pengelolaannya sebaiknya diberikan kepada perusahaan nasional dengan mempertimbangkan program ket a,kemampuanteknis, dankeuangan.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah pinjaman dari bank nasionaluntulcmem. biayai kegiatan produksi energi nasional, tentu dengan sikap kehati-hatian.
Sementara itu, lapangan-lapangan yang sudah ditemukan tetapi tidak mulai dikembangkan dalam waktu tertentu harus dikembalikan kepada pemerintah. Hal ini mempertegas Peraturan Menteri ESDM Nomor 03 Tahtm 2008 yang meminta kontraktor untuk melepaskan lapangan yang tidak diproduk sikan kepada perusahaan terpilih yang bersedia memproduksikannya.
Di Indonesia terdapat banyak lapangan yang tidak dikembangkan, bukan karena
tidak ekonomis tap karena tidak masukprioritas (portofolio) perusahaan. Padahal, kalau saja lapangan tersebut dikerjakan oleh perusahaan lain, terutama perusahaan nasional, itu tentu sajasangat menguntungkan. Hal ini akan meningkatkan produksi migas kita dan meningkatkan kemampuan nasional.
tidak ekonomis tap karena tidak masukprioritas (portofolio) perusahaan. Padahal, kalau saja lapangan tersebut dikerjakan oleh perusahaan lain, terutama perusahaan nasional, itu tentu sajasangat menguntungkan. Hal ini akan meningkatkan produksi migas kita dan meningkatkan kemampuan nasional.
Perlu juga dijajaki kemungkinan kerja sama energi dengan negara lain, seperti denganIranyang memiliki cadang an gas nomor dua terbesar di dunia, Aljazair, dan Nigeria Dengan membantu memproduksikan gas dan LNG dari Iran, Aljazair, Nigeria, dan negara-negara lain, maka Indonesia bisa mendapatkan bagi hasil yang menguntungkan. ^
Penulis adalah Guru Besar Program Studi Teknik Perminyakan ITB
Sumber : INVESTOR DAILY, 16 Mei 2011Sumber Gambar: majalahtambang.com
Seminar Energi " Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional"
Seminar Energi ‘Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional’ Oleh Prof. Widjajono Partowidagdo, MSc, PhD_2 Feb 2011
oleh Politeknik Informatika del pada 02 Februari 2011 jam 4:22
Seminar Energi Diselenggarakan di kampus Politeknik Informatika Del, tadi; Rabu/2 Februari 2011, kerjasama oleh Dewan Energi Nasional, Yayasan Del, dan Politeknik Informatika Del di Kampus Politeknik Informatika Del Desa Sitoluama – Laguboti, Sumatera Utara.
Pada seminar ini, PEMDA diundang, tetapi tidak ada yang hadir, mungkin merasa tidak penting.Justru hadir dari instansi swasta dan institusi terkait.
Menurut Prof. Widjajono Partowidagdo, MSc, PhD (Anggota Dewan Energi Nasional):
Terdapat beberapa anggapan yang keliru mengenai energi di Indonesia diantaranya:
Indonesia adalah Negara yang kaya minyak, padahal tidak. Kita lebih banyak memiliki energi lain seperti batubara, gas, CBM (Coal Bed Methane), panas bumi, air, BBN (Bahan Bakar Nabati) dan sebagainya,
harga BBM (Bahan Bakar Minyak) harus murah sekali tanpa berpikir bahwa hal ini menyebabkan terkurasnya dana Pemerintah untuk subsidi harga BBM, ketergantungan kita kepada BBM yang berkelanjutan serta kepada impor minyak dan BBM yang makin lama makin besar serta makin sulitnya energi lain berkembang,
Iinvestor akan datang dengan sendirinya tanpa perlu kita bersikap bersahabat dan memberikan iklim investasi yang baik,
peningkatan kemampuan Nasional akan terjadi dengan sendirinya tanpa keberpihakan Pemerintah.
Indonesia memproduksi minyak sebesar 357 juta barel, mengekspor minyak mentah sebesar 146 juta barel, mengimpor minyak mentah sebesar 93 juta barel dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 153 juta barel pada tahun 2008 (Sumber ESDM 2009) dan mengkonsumsi 457 barel. Terdapat defisit sebesar 100 juta barel per tahun. Cadangan terbukti minyak kita hanya 3,7 milyar barel atau 0,3 % cadangan terbukti dunia. Sebagai Negara net importer minyak dan yang tidak memiliki cadangan terbukti minyak yang banyak, kita tidak bijaksana apabila mengikuti harga BBM murah di Negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah. Justru Indonesia lebih banyak memiliki energi fosil lain seperti batubara dan gas serta energi yang belum terlalu dikembangkan seperti CBM, tenaga air, panasbumi serta biomas yang biayanya lebih murah dari BBM (kalau tidak disubsidi) serta energi matahari, angin dan arus laut yang diperkirakan biayanya dimasa depan lebih murah dari energi fosil.
Indonesia seharusnya memperbaiki Iklim Investasi di Migas dan Energi lainnya misal dengan meningkatkan kualitas Regulasi, Birokrasi, Infrastrukturnya. Diperlukan pula Peningkatan Kemampuan Nasional dan untuk itu diperlukan Keberpihakan Pemerintah misal dengan memprioritaskan kontrak2 yang sudah habis bagi Perusahaan Nasional serta meningkatkan kemampuan Pendidikan dan Pelatihan serta Penelitian dan Pengembangan.
Indonesia mengekspor batubara dan gas yang kalau jadi listrik biayanya sekitar 8 sen US Dolar/kWh, sedikit menggunakan panasbumi (Indonesia terkaya di Dunia) yang biayanya sekitar 9 sen USD/kWh serta air (banyak sekali di luar Jawa) yang biayanya 8 sen USD/kWh dan akibatnya masih cukup banyak menggunakan diesel yang biaya listiknya 25 sen USD/kWh (tiga kali lipat). Sehingga apabila diesel dapat diganti dengan energi lain maka akan dihemat Rp 4.000 per liter (l).
Di Indonesia transportasi menggunakan bensin yang biayanya Rp 6.000/ l, padahal kalau pakai BBG (Bahan Bakar Gas) harganya yang wajar Rp 3.500/liter setara premium (Dengan harga gas di kepala sumur USD 6,84/MMBTU). Kita berhasil mengganti sebagian minyak tanah Rp 6. 000/l dengan LPG Rp 6.000/kg atau Rp 3.500/ setara liter minyak tanah karena 1 kg LPG setara 1,7 slmt. Seharusnya LPG tabung 3 kg gasnya tidak perlu disubsidi (Rp 4.250/kg atau Rp 2.500/ slmt) karena sudah murah, yang perlu disubsidi tabungnya saja sehingga tidak dioplos. Akan lebih hemat lagi kalau untuk memasak memakai Gas Kota atau BBG (100% gas) yang lebih murah (dan tidak perlu mengimpor) dari LPG (C3 dan C4 yang hanya 20% gas). Saat ini (2010) impor LPG Indonesia (2288 ribu metrik ton) sudah melebihi pasokan domestik (2200 ribu MT). Tidak heran kalau subsidi energi 2010 sekitar 140 trilyun rupiah.
Biaya energi untuk Energi Terbarukan seperti Energi Surya, Energi Angin, Panasbumi, Arus Laut dan Hidrogen akan turun di masa depan, sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Tenaga Air (PLTA) akan naik (walaupun masih tetap rendah). Energi Tak Terbarukan seperti Minyak, Gas, Batubara dan Nuklir akan naik di masa depan.
Batubara bisa lebih bersih lingkungan, konsekuensinya biayanya lebih mahal. Batubara bisa dibuat cair (Coal To Liquid atau CTL) atau dijadikan gas. Gas bisa dibuat cair (Gas To Liquid atau GTL). Gas bisa diperoleh dari Gas Alam (Potensi 335 TCF), dari CBM (Potensi 454 TCF), Shale Gas dan dari Methane Hydrate (Potensi 625 TCF) . Nuklir dari Uranium dan Thorium (Fisi) adalah Tak Terbarukan.
Konsorsium Uni Eropa, Jepang, Cina, India, Korsel, Rusia dan Amerika Serikat membiayai Pengembangan Nuklir FUSI yaitu ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor) TOKAMAK di Perancis Selatan yang diharapkan bisa dikembangkan secara komersial pada tahun 2020 an dan dibuat dari reaksi FUSI antara Detrium dan Tritium yang limbahnya relatif aman (dibandingkan Uranium).
Kita masih bisa menutupi kekurangan energi sampai 2025 dengan mengimpor gas atau mengusahakan migas di luar negeri serta mengembangkan Kemampuan Nasional untuk memproduksikan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi.
Diharapkan Pertamina dan Perusahaan-perusahaan Nasional Migas lain dapat meningkatkan produksi migasnya baik di dalam dan di luar negeri seperti Petronas.
Terobosan Teknologi (Nano) menyebabkan Energi Terbarukan lebih murah dimasa depan. Konservasi atau Penghematan Energi mengurangi Pemakaian dan Pasokan energi serta mengurangi Polusi.
Apabila Indonesia bisa memakai energi yang lebih murah sebagai pengganti BBM (yang mahal) maka dapat dihemat paling tidak seratus trilyun rupiah. Pada tahun 2009 BBM untuk transportasi 37,2 milyar liter (l), rumah tangga 4,7 milyar l, industri 9,8 milyar l, listrik 8,9 milyat l dan ABRI 0,5 milyar l. Kalau bisa mengganti 80% transportasi dengan BBG akan menghemat Rp 2.500 per l atau Rp 74,4 trilyun. Kalau bisa mengganti semua memasak dengan LPG menghemat Rp 2.500 per l atau 11,8 tilyun dan kalau dengan Gas Kota di Kota-kota besar akan lebih menghemat lagi. Kalau bisa mengganti listrik dengan energi lain akan menghemat Rp 4.000/l atau 35,6 trilyun.
Dana lebih dari 100 trilyun tersebut bisa dipakai untuk mengembangkan infrasruktur, meningkatkan kuantitas dan kualitas transportasi umum, memperbaiki informasi wilayah kerja migas yang ditawarkan (sehingga lebih laku), mengembangkan energi terbarukan dan perdesaan (membuat orang betah di desa) dan meningkatkan kemampuan nasional baik di energi maupun di industri-industri lain. Apabila ditambah dengan meminimalkan KKN, mengoptimalkan Penerimaan Pemerintah, mengoptimalkan Pengeluaran APBN, meningkatkan kualitas Birokrasi dan Regulasi dan menggalakkan Penghematan Energi (Konservasi) maka Indonesia pasti menjadi Negara yang Hebat.
Kalau ingin pembangunannya berlanjut secara optimal maka Indonesia perlu memaksimalkan penghematan energi dan penggunaan energi terbarukan sedangkan kekurangannya diisi oleh energi tak terbarukan yang diproses supaya ramah lingkungan. Konsumsi energi rendah disamping menghemat biaya juga menyebabkan polusi rendah. Perlu usaha keras pula untuk menguasai teknologi penghematan energi dan teknologi energi baik terbarukan maupun tak terbarukan. Disamping memproduksikan dan memanfaatkan energi secara optimal di dalam negeri maka Indonesia perlu mengusahakan energi di luar negeri karena disamping memperoleh keuntungan sebagian hasilnya diimpor untuk digunakan di dalam negeri. Kebijakan (Harga, Insentif, Peraturan, Institusi, Infrastruktur, Pendidikan, Penelitian, Pelatihan, Sosialisasi, Pemerataan, Perlindungan dan lain-lain), Perencanaan dan Pelaksanaan (terutama Koordinasi) yang mendukung diperlukan untuk mencapainya. Negara yang baik membutuhkan
Adilnya Pemimpin, Amalnya Pengusaha, Ilmu (Kebenaran)nya Akademisi serta Kesabaran dan Kerja Keras Masyarakat Kebanyakan.
All The Pictures taken by Jonny
Toward Energy Sustainability
Toward Energy Sustainability :
An Executive Interview with
Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D
Member of DEN (National Energy Council)
The special Interview with Prof. Widjajono Partowidagdo was conducted on 12 May 2009 after he shared his views in the SPE Java Section’s monthly Technical Discussion Group (TDG). His talk covered the latest energy outlook, in which the world today consumes 230 MMBOEPD, with oil and gas supplying 60%, coal supplying 20%, and nuclear, hydro, wind, and solar supplying the remaining 20%. By 2020, worldwide energy demand is expected to increase to 285 MMBOEPD with 80% of the growth in developing countries. This is a daunting task for oil and gas authorities, companies and professionals, because 15 years is a relatively short period in our business.
His talk in our TDG challenged the techno-economical sustainability of Presidential Decree No.5/2006, which targets a 17% contribution of renewable energy in Indonesia’s energy mix by 2025, whilst the contribution of natural gas has been assigned to rise from 27% to 31% and coal is assigned to rise from 14% to 33%. This decree seems to ignore our non-renewable energy deliverability and scarcity limits.
In this simple and ‘human interest’ interview, the SPE Java Section Board & Committee were represented by Deden Supriyatman (Chairman), Prijo Hutomo (TDG’s Leader), Yani Siskartika (Committee Member), Dian N. Cahyono (Committee Member), Megawaty (Section Officer). Deden Supriyatman commenced the interview as follows:
SPE: Prof. Widjajono, thank so much for your time. SPE highly appreciates your presentation of Sustainable Energy in our TDG program, which is one of SPE Java’s favorite programs. Firstly, can you tell us the reason why you pursued a Petroleum Engineering degree from ITB in Bandung?
Prof Widjajono Partowidagdo (WP): At first, I planned to apply for Chemical Engineering and Pharmacy because I loved chemistry. However, after reading a student guide book, published by Student Body of ITB, I changed my choices to Petroleum Engineering (PE) and Chemical Engineering. I saw a picture of Pertamina's car and I read that it was easy to get scholarship in Petroleum Engineering.
SPE: You earned your post graduate degrees in the USA. Can you tell us about it briefly?
WP: After graduating from PE, I won a Caltex scholarship which enabled me to pursue a Masters degree in Petroleum Engineering in one year. Afterwards, I received scholarship from US AID ( Agency for International Development) to pursue other two Master degrees in Operations Research and Economics at the University of Southern California (USC), Los Angeles, USA. Later, from the same university, I earned a PhD with dissertation on "An Oil and Gas Supply and Economics Model for Indonesia."
SPE: You are busy as an ITB faculty member, and yet you are still have energy to be involved in other public institutions. It seems that you do not have a time constraint.
WP: I believe the best way to be useful and to benefit myself and others is to give and to share. If you want to double your happiness, share it. Teaching and involvement in public service are two forms of sharing. Apart from these, I follow the principle that teaching and writing are the best methods to learn, so along the way I am continuously learning whilst doing.
SPE: Tell us about your family, how many children do you have? How you manage a life balance?
WP (…smiling): I have one daughter and one wife. Well, in brief, we have to manage life in a comprehensive manner among our work, family, friends and society. Prof. Widjajono then showed his most recent picture in Tanzania where he supported a mountain-climbing campaign to fund ‘lupus disease’ awareness.
SPE: Generally what pillars, do you think are needed to improve welfare in our country?
WP: To the best of my knowledge there are four pillars which are able to improve our country’s welfare. The first is clean government officials who are just and professional. The second is prominent academicians who tell the truth based on their knowledge. The third is rich people assisting their poor fellow citizens. The fourth is common people who are patient, working and learning hard, and trying to be independent. These pillars have to be integrated with proper coordination, synergy and cooperation. Also, a good country is one that dares to learn from mistakes made by its leaders and its people and by leaders and people in other countries. We are learning to be better. Actually if we improve our habits and remember our faults from the past, we will develop sustainability.
SPE: Could you share your opinion about the role of professional associations?
WP: The most important role of professional associations is to serve their main stakeholders: their members on technical and non-technical aspects, and the authorities to improve industry by proposing best practices such as simplifying bureaucracy.
SPE: Would you please tell us why you were selected to be a member of the National Energy Council (Dewan Energi Nasional, DEN)?
WP: To be a member of DEN, one has to be selected by the Ministry of Energy and Mineral Resources plus the House of Representatives (DPR). Before that, we were tested comprehensively through some physical tests, a psycho test, an English test, some paper tests and verbal interviews. There were more than 120 persons tested and finally 8 (eight) persons were accepted including myself. Perhaps because I am a lecturer I could clearly describe what the Examiners wanted to know.
SPE: Could you give a simple example to implement energy sustainability?
WP: I am ridding buses or using mass-public transports more than ridding my own cars. Well, one way to conserve energy is to prioritie energy usage to public transport. I believe that if people are aware of this then our country will save a lot of energy. Private cars consume a lot of subsidized energy. Also, one must always campaign the use of our alternative and renewable energy such as geothermal and Coal Bed Methane (CBM). Increasing government take on coal (by adding depletion premium) to pay for increased health care costs associated with mining coal and breathing polluted air, the costs of acid rain and climate disruption in Sumatra and Java would encourage investment in clean, renewable and sustainable energy sources such as geothermal, biofuel, microhydro, wind and solar.
SPE: The world is presently experiencing a financial crisis, that also impacts our country. You as a petroleum economist and many prominent economists often refer to Mr. Adam Smith. What is your comment on his theory on market economy?
WP: Adam Smith’s theory is valid, provided one applies both the self-restraint and self-interest parts. Currently a lot of countries apply the self-interest part but not the self-restraint part, which leads to imbalance and economical crisis. Self-interest means obtaining maximum results for himself, and to get optimum results we have to consider restraint. The restraint is sharing what we get with others. If we wish that God loves us, we have to love His creatures. Sustainable business is not maximizing profit, it is maximizing value for all stakeholders: individual, society and environment.
SPE: What can we do to improve academic life and education in country?
WP: Collect more funds to properly support the education of our people. The Meiji restoration in Japan was the restoration of education. They replaced Japanese education system "to memorize" with American education system " to understand". However, after the strong influence of American way of life to Japanese society as seen in “The Last Samurai”, the Samurai rebelled. After the Samurais were killed by Kaisar’s army backed by American’s modern weapons, the Kaisar regretted and said: "We are pursuing modernization but we must not forget who we are and where we come from." Japanese adopted academic and scientific life from the West while preserving their own traditions and cultures. Japan progressed whilst retaining their own traditions. We can do the same in Indonesia.
SPE: Talking about the depletion premium from oil and gas, where should we allocate the funds?
WP: We should allocate the funds to: 1. attract investors by providing better information for exploration in oil, gas, geothermal and CBM. 2. develop National Ability (Companies, Education and Research) in both non renewable and renewable energies. 3. develop infrastructures to support energy development. 4. subsidize public transportation. 5. educate people for efficient energy utilization. We know that people need to use mass transport to minimize the consumption of energy and pollution.
SPE: What can SPE do to support the work of National Energy Council, DEN?
WP: Contribute to DEN or government case studies and lessons-learnt, with proposal of best practices. The SPE can also support researchers to acquire practical knowledge necessary to better contribute to public welfare and energy sustainability.
SPE: How do we increase oil production in our country?
WP: The Government must increase the quality of investment climate in Indonesia by minimizing corruption, increase the coordination among executive and legislative, among central and local governments, among departments and increase the quality of regulations and bureaucracy. 2. BP MIGAS must simplify bureaucracy. It is getting better by hiring ex-employees from KKKS Companies who have experience in international petroleum business and by having representatives in KKKS companies. 3. The quality of communications between Directorate General MIGAS, BP MIGAS, KKKS need to be improved. The P3M (Supervising for increasing production) Team needs to approach The Government and KKKS to identify problems and solve them together.
From Left to Right: Deden Supriyatman (SPE Java Indonesia Chairman), Prijo Hutomo (TDG Moderator), Prof.Dr.Widjajono Partowidagdo (National Energy Council, Main TDG Speaker), Dr.Parulian Sihotang (BPMIGAS, TDG Speaker)
The Two Invited Speakers : (from Left) Prof. Widjajono (National Energy Council, DEN) and Dr.Parulian Sihotang (BP MIGAS, Finance)
Pengajar Studi Pembangunan ITB
| ||||
My Jakarta: Widjajono Partowidagdo
My Jakarta: Widjajono Partowidagdo
December 12, 2008
December 12, 2008
Born in Magelang, Central Java Province, in 1951, Widjajono Partowidagdo grew up in Bandung after his father was transferred to West Java Province for Army duty. After studying oil engineering at the Bandung Institute of Technology, or ITB, he received a scholarship from Caltex (now Chevron Pacific Indonesia) to pursue a master’s in oil engineering and a doctorate in petroleum in the United States. Now living in Jakarta with his wife and their 12-year-old daughter, Widjajono is a professor in the Department of Mining and Petroleum Engineering at ITB, a member of the oil and gas escalating production team at the Energy and Mineral Resources Ministry and a newly elected member of the National Energy Council.
Why did you move to Jakarta?
Because my wife is from Jakarta, and she teaches at the University of Indonesia. It’s also easier for me to earn money here than in Bandung. All my contracts with Pertamina and other oil companies are in Jakarta, although it means I have to go back and forth to Bandung to teach at ITB.
How do you travel in Jakarta?
I have a driver to take me or my family anywhere. If the driver’s not available, I just take public transportation like the old and shaking buses. My daughter never takes public transportation at all, for her safety.
Any bad experiences in using Jakarta’s public transportation?
Last year, I caught a pickpocket in action. There were a group of men targeting female passengers in the bus. I saw a man touching a woman’s leg when she was about to jump off. I warned her, but she didn’t really react. Then, there was another woman ready to get off, the same man touched her leg. When her attention focused on her leg, I grabbed another man’s hand that was about to fish into her purse. I told her that he was a pickpocket and she could just go. She thanked me.
Not long after that, I heard voices arguing at the back of the bus. The other men didn’t like the failure. Fortunately, the next stop was my office, and I just jumped off before the group could think how to handle me.
But that was my only bad experience during years of using public transportation. I also often see police looking for pickpockets.
How do you feel about your job?
I like my job. Sometimes I work for oil companies like British Petroleum [now Beyond Petroleum] and do development plans for them. Sometimes I work for the government as the one who takes care of government policies in the sector.
I also work for BPMigas [the upstream oil and gas regulatory body]. By working on both sides, I see many shortcomings here and there and try to be a mediator for government and the companies. We meet to discuss the problems every one or two months with the minister.
How do you like living in Jakarta?
I like it here. I love adventure, so I have no problem with Jakarta, although pollution has become a major concern here. I think pollution causes autism, as more and more children in the capital are suffering from autism every year. Last year, from a plane, I saw Jakarta blanketed in a reddish-brown fog. It was terrible, shocking. The traffic jam underneath must have caused it. It was like LA decades ago, but now LA is clean.
How to make Jakarta better?
We are a poor nation, but we act like a wealthy one. Why does the government keep on subsidizing costly fuel? This makes people think there is something fishy in the oil business. The government has to change the subsidy programs by allocating the subsidy to renewable energies like geothermal and biofuels. Hike the price of fuel so it will automatically reduce the number of private cars on the street. People should swallow their pride and use public transportation. This will help reduce the pollution.
However, the government should also improve public transportation and its supporting infrastructure, create alternatives like an MRT or bajaj and taxis that use natural gas. More gas for households programs would save a lot on subsidies, too. We have cooking gas in Depok. The government should institute more gas programs for cooking, since it’s cheaper than LPG.
What do you do in your leisure time?
I love hiking and mountain climbing. I can’t do that in Jakarta, so I go to Bandung for hiking. I also like to watch movies with my daughter at Senayan City or Plaza Senayan. I just watched “Laskar Pelangi” with my daughter. Besides that, I love seafood, mollusks to shrimp. I prefer Asian cooking to Western, though.
Widjajono Partowidagdo was talking to Mita Valina Liem
Why did you move to Jakarta?
Because my wife is from Jakarta, and she teaches at the University of Indonesia. It’s also easier for me to earn money here than in Bandung. All my contracts with Pertamina and other oil companies are in Jakarta, although it means I have to go back and forth to Bandung to teach at ITB.
How do you travel in Jakarta?
I have a driver to take me or my family anywhere. If the driver’s not available, I just take public transportation like the old and shaking buses. My daughter never takes public transportation at all, for her safety.
Any bad experiences in using Jakarta’s public transportation?
Last year, I caught a pickpocket in action. There were a group of men targeting female passengers in the bus. I saw a man touching a woman’s leg when she was about to jump off. I warned her, but she didn’t really react. Then, there was another woman ready to get off, the same man touched her leg. When her attention focused on her leg, I grabbed another man’s hand that was about to fish into her purse. I told her that he was a pickpocket and she could just go. She thanked me.
Not long after that, I heard voices arguing at the back of the bus. The other men didn’t like the failure. Fortunately, the next stop was my office, and I just jumped off before the group could think how to handle me.
But that was my only bad experience during years of using public transportation. I also often see police looking for pickpockets.
How do you feel about your job?
I like my job. Sometimes I work for oil companies like British Petroleum [now Beyond Petroleum] and do development plans for them. Sometimes I work for the government as the one who takes care of government policies in the sector.
I also work for BPMigas [the upstream oil and gas regulatory body]. By working on both sides, I see many shortcomings here and there and try to be a mediator for government and the companies. We meet to discuss the problems every one or two months with the minister.
How do you like living in Jakarta?
I like it here. I love adventure, so I have no problem with Jakarta, although pollution has become a major concern here. I think pollution causes autism, as more and more children in the capital are suffering from autism every year. Last year, from a plane, I saw Jakarta blanketed in a reddish-brown fog. It was terrible, shocking. The traffic jam underneath must have caused it. It was like LA decades ago, but now LA is clean.
How to make Jakarta better?
We are a poor nation, but we act like a wealthy one. Why does the government keep on subsidizing costly fuel? This makes people think there is something fishy in the oil business. The government has to change the subsidy programs by allocating the subsidy to renewable energies like geothermal and biofuels. Hike the price of fuel so it will automatically reduce the number of private cars on the street. People should swallow their pride and use public transportation. This will help reduce the pollution.
However, the government should also improve public transportation and its supporting infrastructure, create alternatives like an MRT or bajaj and taxis that use natural gas. More gas for households programs would save a lot on subsidies, too. We have cooking gas in Depok. The government should institute more gas programs for cooking, since it’s cheaper than LPG.
What do you do in your leisure time?
I love hiking and mountain climbing. I can’t do that in Jakarta, so I go to Bandung for hiking. I also like to watch movies with my daughter at Senayan City or Plaza Senayan. I just watched “Laskar Pelangi” with my daughter. Besides that, I love seafood, mollusks to shrimp. I prefer Asian cooking to Western, though.
Widjajono Partowidagdo was talking to Mita Valina Liem
Langganan:
Postingan (Atom)


